Balik lagi di personal blog Livia! Hows life? 2017 asik ya? Hahaha iya asik, baru juga awal tahun, masih anteng-anteng jadinya. Oke, Livia mulai ngawur. Hari ini aku akan bahas sesuatu, ada yang tahu apa? Yang pasti itu judulnya sih random dan nggak jelas. Karena memang Livia nggak tau mau ngomongin apa.

Jadi gini, aku tegabung dalam suatu komunitas yaitu #1Minggu1Cerita, merupakan komunitas untuk para blogger supaya bisa rutin blogging minimal 1 cerita dalam 1 minggu. Komunitas ini memang pas banget buat resolusiku yang pernah aku sebutin di post sebelumnya. Temanya bebas, tapi untuk minggu ke 1 (tanggal 23 Januari ’17 – 29 Januari ’17) ada tema yaitu “Kampung Halamanku Juga Seru”. So, para blogger harus menceritakan ya yang berhubungan dengan kampung halamannya gitu. Btw, maklumi aja ya featured image-nya emang agak ngawur, since nyari foto masa kecil agak susah, jadi ya pake foto kue ulang tahun ke 17 aja deh (LOL), sama-sama tentang umur kan?

tema web.jpg
Tema post untuk minggu pertama

Seperti yang sudah pernah aku ceritakan di post “The Name Is Livia”, aku lahir di Surabaya, tapi di akte kelahiran tertulis lahir di Poso. Buat yang nggak tau Poso itu dimana, kalau kalian tau teroris di Sulawesi, nah disitu (Poso seketika terkenal karena teroris -__-). Selama beberapa hari Livia bingung, mau ceritain apa nih, aku mungkin memang lahir di Surabaya tapi besarnya di Bogor dan Jakarta. Tak begitu ingat tepatnya berapa lama aku di Surabaya sampai akhirnya pindah ke Jakarta, lalu ke Bogor, dan akhirnya ke Jakarta lagi. Di Jakarta pun rumahnya pindah-pindah. Sempat aku tinggal di daerah Fatmawati dan acara ‘pindah-pindah’ berakhir di Hayam Wuruk. Dasar bayi nomade. Jujur saja, aku tak tahu apa-apa soal daerah kelahiranku yang sering disebut-sebut sebagai Kota Pahlawan. Seriusan. Bahkan melihat dengan mata sendiri tak pernah. Masa kecil ku habiskan di Bogor dan Jakarta, jadi aku akan menceritakan 2 daerah itu, Kampung Halaman Orang.

Dulunya tinggal di Bogor…

Tak begitu banyak yang ku ingat tentang Bogor si kota hujan. Yang aku tahu, aku tinggal di sebuah rumah, tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk ditinggali. Belakangan saat sudah beranjak dewasa aku baru tahu bahwa daerah rumahku dulu berada di dekat jalan tol. Rumahku yang di Fatmawati di skip saja ya, karena aku juga tak ingat sama sekali. Hayam Wuruk, tempat masa kecilku paling banyak dihabiskan. Tinggal di sebuah apartemen – apartemen jaman dulu, yang sekilas telihat seperti rumah susun – dengan koridor yang tidak terlalu sempit, aku sering mengisi waktu bermain dengan mengendarai sepeda di koridor, bermain bola di lapangan, petak umpet bersama tetangga sekaligus teman sekolah, dan permainan masa kecilnya yang pastinya seru – sebelum era gadget ‘meracuni’ masa kecil anak-anak. Sebagai bocah yang menghabiskan hampir 1ยฝ dekade di apartemen, Livia tidak tumbuh sebagai anak yang tidak tahu bagaimana bersosialisasi dengan tetangga, hidup individualis. Nggak. Karena seperti yang aku bilang apartemenku tidak seperti apartemen jaman sekarang, tetangga satu lantai pun belum tentu saling kenal.

Di masa kecilku, mall belum ‘bertebaran’ seperti sekarang, mall tidak terlalu banyak. Jika ingin jalan-jalan atau belanja, aku dan mama biasanya pergi ke Mall Blok M, Mall Ciputra (CitraLand), Plaza Lokasari, Mal Ambassador + ITC Kuningan, dan Mega Mall Pluit (sekarang sudah berubah nama menjadi Pluit Village). Hanya itu yang aku ingat. Sebagai anak ibukota, masa kecilku mungkin agak berbeda dengan mereka yang saat kecil sering bermain di rumah kakek-neneknya, tinggal di pedesaan, main kotor-kotoran di sawah, dll. Sejujurnya sedikit banyak aku iri dengan mereka, tapi ya sudahlah.

Karena seringnya pergi ke mall, let’s talk about mall!

Mall di Jakarta!

Dulu sering banget sama mama diajak ke Blok M, kalau pergi kesana pasti naik bus. Yang ku ingat adalah kita harus nunggu bus lamaaaa banget, baru datang. Jaman itu belum seperti sekarang, sudah ada Transjakarta, menunggu pun tidak selama menunggu bus kala itu. Nanti pulangnya juga naik bus, karena kalau naik taksi lumayan mahal walaupun saat itu tarif belum semahal sekarang. Tak banyak yang ku inget dari Mall Blok M, yang kutahu mall nya tidak banyak berubah sekarang.

Livia juga sering banget dulu ke MegaMall Pluit, pas jamannya masih gede banget mallnya, banyak tempat main, dan ada Carrefournya (kalau nggak salah). Sesuai dengan namanya, mall ini dlunya guedee banget, sampai capek kalau kesini. Memang sih nggak sebagus Pluit Village sekarang, but I do miss the old Mega Mall ๐Ÿ˜ฆ Biasanya kalau ke Carrefour suka banget naik trolley mobil. Jadi mobilnya nyambung sama trolleynya gitu. Sayang aku nggak punya fotonya, tapi aku coba cari di internet.

trolley-mobil
Trolley mobil yang biasanya jadi rebutan anak-anak kala itu (source: idawy.wordpress.com)

 

Mall lainnya yang sering Livia kunjungi adalah Mal Ambassador + ITC Kuningan. Karena keduanya nyambung – dihubungkan dengan sebuah lorong atau koridor – jadi kalau ke Ambassador, kemungkinan besar pasti akan ke ITC Kuningan juga. Hampir setiap minggu kesini, karena memang kebetula ber-gereja disini. Tak banyak hal yang berubah antara Mal Ambassador tahun 2003 dengan Mal Ambassador tahun 2016. Mungkin yang berubah hanyalah toko-toko di dalam mal, ada yang tutup dan digantikan toko lain.

Plaza Lokasari menjadi salah satu tempat dimana Livia banyak menghabiskan waktu di masa kecil, karena lokasinya pun tak jauh dari Apartemen Jayakarta. Bicara soal perbandingan mal saat Livia kecil dengan yang sekarang, Lokasari mengalami perubahan yang cukup signifikan. Dulu disini ada Timezone, sering banget main disini, selain itu juga ada Toko Buku Gunung Agung, Matahari Department Store, Hari-hari Pasar Swalayan. Seiring berjalannya waktu, satu persatu mulai hilang, dari Timezone tutup terlebih dahulu, diikuti Toko Buku Gunung Agung, lalu Matahari (agak lupa Matahari duluan atau Gunung Agung). Hanya Hari-hari yang bertahan sampai saat ini. Dulu, lantai dasar (lantai 1) tempat toko-toko handphone, Hari-hari berada di lantai 2 dan belum direnovasi menjadi seluas sekarang, Matahari ada di lantai 3 dan 4, Gunung Agung juga berada di lantai 4, sedangkan Timezone dulunya ada di lantai 5 – lantai paling atas. (aku masih belum gitu yakin, mohon koreksinya jika salah ya). Sedikit banyak aku kangen sama Lokasari jaman Livia kecil, tapi juga puas dengan keadaannya yang sekarang, karena selain lebih baik pastinya, kondisinya juga lebih bersih dibandingkan dengan yang dulu.

Mall terakhir yang akan aku kenang sedikit disini adalah Mal Ciputra (CitraLand). Mal yang biasa disingkat CL ini juga tidak mengalami banyak perubahan. Dulu sering banget main disini, karena banyak permainan untuk anak-anak. 1 Ciri khas dari CL yang membuatku selalu ingat tentang mal ini adalah jalan di mallnya yang menanjak, jadi memungkinkan kita untuk naik atau turun tanpa harus menggunakan lift or eskalator. Keren, kan? HAHA. Seriusan. Kalian yang sudah pernah kesini pasti tahu apa yang aku maksud, tapi yang belom pernah, kalian harus lihat dan rasakan sendiri. Jadi di antara lantai lainnya nyambung gitu.

citraland
Ini yang aku maksud, seperti yang kalian lihat, jalannya seperti menanjak, menghubungkan lantai 1 dengan lainnya. (source: google.com)

Begitu banyak hal jika berbicara soal ‘kampung halaman’ – Kota Jakarta. Karena Livia lagi mood nya membahas perubahan-perubahan yang terjadi antara masa kecil dan sekarang, juga berhubung dulu selain di rumah mainnya ke mal, so yeah, inilah sedikit tentang keseruan childhood seorang bayi nomaden, taunya kampung halaman orang. Hahaha.

Sekian aja blogpost Livia kali in, tunggu blogpost selanjutnya. Comment gimana masa kecil kalian terutama kalau sama-sama di Jakarta (pas kecilnya). See ya!

Advertisements

7 thoughts on “Bayi Nomaden, Cuma Tahu Kampung Halaman Orang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s