Hey, guys! Finally… blogging lagi. Hari yang ditunggu datang juga. “GRAND OPENING” lol. Kangen loh, sedih karena waktu itu terakhir nge-blog April 2016 dan sempat berhenti sampai Januari ini. Sesuai janji aku di Instagram, aku akan mulai rutin nge-blog lagi disini, . Doain, ya! Supaya Livia bisa terus rutin, nggak males-males lagi. (Btw, judulnya random aja itu)

Anyway, di post pertama ini (sebenarnya ini udah post yang ke-5, kalian bisa baca dulu 2 post aku yang awal banget, ada introduction singkat dan renungan about “The RIGHT ONE”, ada juga 2 post yang baru-baru ini aku tulis tentang resolusi 2017 dan ‘kampung halaman’), aku akan bahas tentang Coffee. Bukan tentang informasi yang berbau ‘Pro’, tapi informasi-informasi umum aja. Livia sebut ini post pertama karena aku mau aja buat start over. Ulang dari awal, dan mulai rutin dari awal… Ini juga post pertama – versi setelah komitmen serius – di 2017. So, let’s get started!

Apa sih kopi itu?

Apa sih kopi itu? Ada yang nggak tau kopi? Kopi itu sahabatnya koran dan temannya teh (Nggak ngelawak, tapi aku bercanda). Kopi adalah minuman ber-kaffein yang biasa diminum dengan tujuan untuk menghilangkan dan/atau mencegah kantuk, ada juga yang menikmati kopi karena rasanya hari tak lengkap tanpa kehadiran minuman ber-kaffein ini.

pohon-kopi
Coffee cherries (google.com)

Sejarah kopi ditemukan pertama kali oleh seekor kambing. Hahaha, seriusan. Ditemukan oleh seekor kambing yang milik seorang penggembala kambing dari Ethiopia bernama Kaldi. Jadi, ceritanya suatu hari si Pak Kaldi ini melihat kambingnya seperti lebih energik, hiperaktif, dan melompat kesana kemari seperti sedang menari. Pak Kaldi penasaran apa yang membuat kambingnya menjadi seperti itu. Dia melihat ternyata setelah kambingnya memakan buah beri dari pohon yang tidak dikenal. Lalu, ia mencoba memakan juga buah beri tersebut dan efek yang sama dengan yang dialami kambing dialami juga oleh dirinya. Pak Kaldi mengambil buah beri tersebut dan membawanya kepada seorang biarawan. Tapi, penggunaannya tidak disetujui. Kayaknya sih karena dinilai berdosa, efeknya seperti morfin. Lalu beri tersebut dilemparkan ke dalam api dan menghasilkan bau yang sedap dan menggiurkan. Biji yang sudah terpanggan dikumpulkan, dilarutkan ke dalam air dan… JENG JENG! Jadi lah minuman kopi pertama di dunia. Ya, inilah sejarah dan myth nya. Cerita ini menjadi inspirasi salah satu nama coffee shop, yaitu Dancing Goats Coffee Co., lokasinya di Puri Indah. Boleh silahkan di cek ke tempatnya, barangkali ketemu Pak Kaldi dan kambingnya LOL.

“Genus: Coffea. Overall, the genus has about 100 species, only a few which are commercially relevant. Species: Arabica makes up approximately 70% of the world’s coffee production. Other species not so common is specialty include Canephora (var “Robusta”) and Liberica” – The SCAA

Spesies kopi ada banyak. Dan dari sekitar 25 spesies atau lebih tanaman Coffea, ada 2 spesies yang paling banyak diproduksi secara komersial, yaitu Coffea arabica (Arabica coffee) dan Coffea canephora (Robusta coffee). Menurut International Coffee Organization, 2 spesies lain, Coffea liberica (Liberica coffee) dan Coffea dewevrei (Excelsa coffee) juga diproduksi secara komersial tetapi dalam jumlah yang jauh lebih kecil tidak mungkin tersedia untuk sebagian besar konsumen.

arabica-green-coffee-bean
Arabica green coffee beans (google.com)

Di ranah dagang, kopi dibagi menjadi 2 jenis; commodity coffee & specialty coffee. Kalau specialty coffee sederhananya adalah produk kopi yang ditujukan untuk para spesialis kopi. Sedangkan commodity coffee adalah kopi yang ditujukan untuk kebutuhan industri. Menurut seseorang yang pernah aku temui di sebuah coffee event, kopi harus mencapai ‘nilai’ tertentu untuk dapat dikatakan sebagai specialty coffee. Jika tidak mencapai, maka kopi tersebut masuk ke dalam kategori lainnya. Jadi, kalau menurutku kesimpulannya specialty coffee adalah tentang kualitas kopi sebagai yang utama sedangkan commodity coffee tentang kuantitas untuk memenuhi kebutuhan pasar. Biasanya… yang akan masuk ke kategori kopi komoditas adalah spesies Robusta. Disini Livia akan lebih membahas ke specialty coffee, spesies Arabica

Jika kalian sering ke pergi coffee shop apalagi specialist coffee shop, pasti nggak asing lagi dengan Espresso, Americano, Cappuccino, dan teman-temannya. Ya, mereka sering ditulis di menu. Tapi, apa ada yang masih nggak tahu mereka itu apa sebenarnya? Ya wes kita bahas aja sama-sama. Yang sudah tahu pun nggak apa-apa baca aja.

Umumnya ada beberapa jenis minuman yang sering banget nongol di menu kalau kita ke coffee shop, istilahnya wajib hukumnya ada mereka. Ada Espresso, Americano, Long Black, Cappuccino, Café Latte, Flat White, Caffè macchiato, dan Piccolo Latte. Masih ada  lagi, tapi untuk sekarang ini dulu yang mau Livia bahas. Kedelapan minuman di atas adalah minuman espresso based, karena dibuat dengan bahas dasar utama espresso. Apa sih Espresso itu?

ESPRESSO

espresso
Espresso.. Beautiful crema! (youtube.com)

Espresso menurut SCAA adalah 7 – 9 gram bubuk kopi yang diekstrak menggunakan air bersuhu 195° – 205°F (92° – 95°C) dengan tekanan 9 – 10 bar selama kurang lebih 20 sampai 30 detik menghasilkan 25 – 35 ml kopi.

The Specialty Coffee Association of America (SCAA) defines espresso as “a 25-35ml beverage prepared from 7-9 grams of coffee through which clean water of 195°-205°F (92°-95°C) has been forced at 9-10 atmospheres of pressure and where the grind of the coffee is such that the brewing ‘flow’ time is approximately 20-30 seconds.”

Sederhananya, Espresso adalah ekstrak dari kopi. Karena espresso adalah ekstrak, jadi ya murni, pure kopi gitu. Nggak semua orang suka, apalagi yang bener-bener nggak suka sama kopi, disuruh minum espresso…. hmm kayaknya habis dah lu dihajar. Menurut sebuah website yang aku baca, untuk peminum kopi yang mau mulai beralih dari kopi sachet ke specialty coffe dan orang yang mau belajar mulai minum kopi tidak disarankan untuk langsung mencoba Espresso. Karena selain yang nantinya cuma merasakan asam dan pahit, kaget sama rasanya, juga bisa menimbulkan trauma akan kopi. Yang ada kapok minum kopi. Tapi, kalau mau langsung coba minum Espresso juga nggak apa-apa kok, tidak dilarang.

Sekian dulu tentang Espresso, nanti akan ada post yang ngebahas lebih dalam lagi tentang ekstrak dari kopi ini. Sekarang lanjut ke berikutnya, Americano.

AMERICANO

Americano pada dasarnya adalah kopi hitam yang terdiri dari Espresso dan air panas. Iya, se-simple itu. Cara penyajiannya adalah air panas disiapkan terlebih dahulu baru ditambah 2 shots of espresso.

Ada kisah sejarah singkat yang aku dapatkan dari seseorang, mengapa bisa dinamakan ‘Americano. Jadi, seorang yang berasal dari Amerika pada PD I ‘nyangkut’ di Italia. Dan ketika di Italia dia sering ngopi, kopi yang disajikan di Italia adalah Espresso. Saat orang Amerika ini memesan Espresso, dia selalu memesan juga air panas. Air panas itu lalu ia tambahkan ke Espresso-nya. Jadilah dinamakan ‘Americano’. Hahaha. Ceritanya bagus, ya? Tapi ini beneran.

americano
Americano (peachpubs.com)


LONG BLACK

Nah, selanjutnya adalah Long Black. Minuman espresso based yang satu ini agak mirip dengan americano. Sama-sama terdiri dari air panas dan espresso, hanya saja yang membedakan dari Long Black yaitu acara penyajiannya. Jika americano adalah air panas yang ditambahkan 2 shots espresso, maka long black kebalikannya. Kita menyiapkan espresso terlebih dahulu setelah itu baru ditambahkan air panas ke dalamnya ke dalamnya.

long-black
Ilustrasi perbedaan Americano dan Long Black – kiri ke kanan (majalahottencoffee.co.id)

 

Untuk sekedar tambahan, pengertian American dan Long Black kembali kepada SOP atau Standard Operating Procedure masing-masing coffee shops. Beberapa artikel di internet mengatakan bahwa Americano adalah espresso yang ditambahkan air panas, sedangkan Long Black adalah kebalikannya. Ya, masih blur-blur gitu jadinya.

CAPPUCCINO

Ini adalah minuman espresso based lainnya. Dan jika dibandingkan dengan teman-temannya, cappuccino adalah yang paling balance, istilahnya dia netral gitu nggak mihak manapun, antara susu atau kopi. Kenapa?

According to The Specialty Coffee Association of America (SCAA), a competition Traditional Cappuccino is a single shot of espresso with “equal amounts of milk and foam in a 6oz ceramic cup.” Cappuccino more concentrated and more foam that a latte.

Jadi, cappuccino dikatakan demikian karena terdiri atas 1/3 coffee, 1/3 milk, and 1/3 milk foam. Masing-masing memiliki perbandingan yang sama. Selain itu, juga cappuccino memiliki presentasi visual yang baik karena biasanya cappuccino identik dengan latte art. Apa sih latte art itu? Sederhananya, latte art adalah seni menggambar di atas crema. Dan yang secara teknis, membuat latte art adalah menggambar menggunakan foam susu.

img_3799
Cappuccino (Foto: Livia Isnora)


CAFFÈ LATTE

Kalau tadi kita sudah membahas cappuccino, sekarang kita bahas caffè latte. Sekilas caffè latte hampir mirip dengan cappuccino. Apa yang membedakan?

A Caffè latte is a single or double espresso with mostly steamed milk and a little micro-foam.

Jadi, kalau cappuccino dikatakan minuman yang rasanya balance, caffè latte atau biasa disebut latte tidaklah demikian. Rasa dari latte lebih milky (susunya lebih berasa) daripada cappuccino. Karena kuncinya ada di steaming susu. Umumnya, proses steaming susu ini berfungsi untuk dua hal, yaitu memanaskan susu sampai mencapai temperature tertentu sesuai dengan yang diinginkan dan untuk menghasilkan micro foam. Latte memiliki foam susu yang halus dan tidak tebal.

cappuccino-vs-latte
Cappucino vs Latte (drinks.seriouseats.com)

Latte cocok bagi mereka yang baru mau belajar untuk minum kopi, sangat direkomendasikan berhubung komposisi susunya lebih banyak dari espresso. Di caffè latte juga ada latte art sama seperti cappuccino. Untuk membedakan latte adalah ketika diminum kita akan merasakan kopi yang terasa begitu milky.

FLAT WHITE

Flat white adalah minuman yang terbuat dari steamed milk dan espresso dan karena kandungan komposisi yang sama membuatnya terlihat hampir mirip dengan latte. Menurut Eileen P. Kenny—seorang barista dan penulis khusus tentang kopi, kuncinya berada pada foam susu yang dicampurkan. “Dalam dunia kopi specialty, sebuah flat white umumnya memiliki microfoam yang lebih tipis dibandingkan dengan latte, bahkan seringkali kurang bervolume. Tapi ia tetap memiliki creamy milk yang ditambahkan di atas espresso yang jumlah shot-nya sama (dengan latte). Perbedaan lainnya adalah jika latte biasanya disajikan dalam gelas, maka flat white umumnya disajikan dalam cangkir keramik—yang ukurannya lebih kecil dari cangkir cappuccino.”

Minuman ini cenderung subjektif, dan variasinya tergantung pada negara atau café mana yang kita kunjungi (kecuali Inggris, karena Inggris memiliki “racikan” khusus mereka sendiri untuk flat white). Dan beberapa barista mungkin menggunakan takaran susu yang lebih sedikit dibandingkan dengan latte.

Umumnya, flat white disajikan dengan dua variasi:

∙ Tanpa foam. Variasi ini adalah yang paling sering digunakan di banyak café dimana espresso (dalam shot standar) dikombinasikan dengan susu yang di-steam.

∙ Dengan foam. Sementara variasi ini adalah yang cukup umum disajikan terutama oleh specialist coffee shop. Metode ini benar-benar menuntut keahlian dari baristanya, karena pada saat membuat textured milk-nya, si barista harus membuat micro foam yang benar-benar halus namun kerasa.

flat-white-dari-starbucks
Flat white dari Starbucks (majalahottencoffee.co.id)

Jadi bagaimana cara merasakan perbedaan flat white ini? Ketika kita minum, kita akan merasakan kopi yang cenderung kuat tapi masih ada rasa lembut yang halus menyertainya.

CAFFÈ MACCHIATO

Caffè macchiato adalah minuman kopi yang dibuat dengan mencampurkan espresso dan susu. Ada 2 jenis macchiato yang biasanya disajikan, yaitu Espresso Macchiato dan Latte Macchiato. Cara penyajian espresso macchiato adalah dengan menambahkan sedikit susu ke dalam segelas espresso, sedangkan jika menambahkan espresso ke dalam segelas susu namanya latte macchiato. Bisa dibilang espresso macchiato adalah shot espresso yang diberikan foam susu di bagian atas dengan sendok, disajikan di gelas/mug kecil.

latte-macchiato
Latte Macchiato (wikipedia.com)

Macchiato dalam bahasa Italia memiliki arti “ditandai dengan bercak”, dinamakan demikian karena espresso dinodai dengan sedikit busa yang berasal dari susu di atasnya. Begitu juga dengan latte espresso, setelah espresso dituang ia akan berada di tengah gelas jadi kelihatannya seperti memisah susu menjadi 2 bagian. Perbandingan dari susu dan kopi dalam espresso macchiato ini adalah 1:4 disajikan dalam cangkir espresso kecil (demitasse) berukuran 60-90ml (2-3oz). Kalau latte macchiato disajikan dalam gelas tinggi yang berukuran lebih besar.

espresso macchiato.jpg
Espresso Macchiato (nespresso.com)

 

PICCOLO LATTE

Nah, sampai lah kita ke minuman terakhir yang akan Livia bahas di post kali ini. Piccolo latte! Pada dasarnya piccolo latte adalah kopi + susu juga – espresso ditambah steamed milk dan foam. Kalau berdasarkan artikel yang aku baca, espresso ditambahkan 100ml steamed milk. Ratio kopi dan susu 1:1. Nggak cuma pake espresso, tapi di beberapa coffee shop kita bisa request untuk pake ristretto.

piccolo2
Piccolo Latte (whitehorsecoffee.com.au)

Rasanya piccolo gimana sih? Katanya sih, kopinya terasa kuat tapi tetap ada legitnya susu yang terkadang muncul. Piccolo latte disebut-sebut sebagai latte versi mini, hanya saja teksturnya lebih milky dan creamy. Ukurannya yang lebih kecil membuat rasanya lebih intense, karena disajikan di gelas yang berukuran 90-120ml (3-4oz).

piccolo1
Kecil-kecil menggiurkan banget ya (whitehorsecoffee.com.au)

Jangan meremehkan dia walaupun kecil ya, karena kecil-kecil mantap nih. Hahaha. Piccolo latte cocok banget buat kamu yang nggak mau nongkrong lama-lama di kopisop tapi pengen ngerasain sensasi kopi ditambah dengan susu.

Untuk catatan, perlu diingat semua coffee shop tidak bisa dipukul rata. Maksudnya adalah yang aku tulis bukan keharusan, jadi tergantung dari SOP masing-masing.

Gimana guys? Jadi kepengen minum kopi? Jadi makin curious tentang kopi? Hahaha, kopi memang serumit dan seseru ini. Kalo di bawa pusing pasti berasa makin pusng, tapi kalo dibawa asik kopi itu seru banget. Btw, sampai sini dulu ya post Livia kali ini. Ditunggu post selanjutnya! Yang pastinya pembahasan Livia tentang kopi nggak cuma post ini aja, masih banyak post lainnya menanti. Aku juga bakal membahas hal-hal yang lain. Kalau kalian mau mengusulkan ide untuk Livia post atau mau tanya-tanya, boleh banget, bisa komentar di bawah. Oh iya, kasih comment, kritik, dan saran ya untuk post Livia. Jangan lupa follow Livia di socmed, ig-facebook-snapchat dan subs channel YouTube-ku! See ya 🙂

 

Advertisements

4 thoughts on “The Beginning (Is About Coffee)

  1. Halo Livia!
    Saya pernah ngopi di kopisop padahal pesen macchiato, itu aja udah bikin agak trauma untuk ngopi soalnya asem gimana gitu hahaha. Tapi makin curious juga sama rasa jenis kopi lainnya. Btw thanks for sharing about coffee yaa! 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s